Ada apa dengan Mata pelajaran PKn ?

Kemdiknas: Ganti Judul, Kewarganegaraan!

JAKARTA, Kepala Pusat Kurikulum dan Buku Kementerian Pendidikan Nasional (Kapuskurbuk Kemdiknas) Diah Harianti menegaskan, bahwa tidak ada perbedaan isi antara mata pelajaran pendidikan Pancasila dan pendidikan Kewarganegaraan. Satu-satunya yang membedakan kedua mata pelajaran tersebut hanya pada namanya.

Mata pelajaran Kewarganegaraan itu tadinya pendidikan Pancasila. Yang diganti itu hanya judul mata pelajarannya saja, disesuaikan dengan judul dalam UU Sisdiknas.
— Diah Harianti

“Sebetulnya, mata pelajaran Kewarganegaraan itu tadinya pendidikan Pancasila. Yang diganti itu hanya judul mata pelajarannya saja, disesuaikan dengan judul yang ada dalam UU Sisdiknas, tapicontent-nya tidak berubah. Pendidikan tentang NKRI dan cinta tanah air, semuanya ada di situ,” kata Diah, Jumat (6/5/2011) siang, di Jakarta.

Diah menjelaskan, semua itu berdasarkan keputusan badan standarisasi nasional pendidikan (BSNP), agar semua mata pelajaran mengikuti nama di dalam muatan kurikulum. Pendidikan kewarganegaraan, lanjutnya, menjadi bagian dari kurikulum satuan pendidikan tingkat nasional dengan standar tinggi.

“Jika content harus dirubah, itu memerlukan waktu yang panjang dan semua ada prosedurnya,” ujar Diah.

Ia mengatakan, seluruh pihak sebaiknya jangan terlalu memaksa untuk memodifikasi kurikulum secara terus menerus, kecuali jika itu dilakukan dalam ruang lingkup lokal, seperti di sekolah misalnya.

“Bagi sekolah yang belum mengajarkan pendidikan cinta tanah air, mungkin kurikulumnya perlu dimodifikasi,” tambahnya.

Sumber : kompas.com

Sayang…Pancasila Cuma Sebatas Kognitif

Praktisi pendidikan, Arief Rachman, mengatakan, saat ini berbagai masalah dapat muncul jika hanya menekankan aspek kognitif dalam proses pembelajaran dalam penerapan ideologi Pancasila. Salah satunya adalah mudahnya pergerakan Negara Islam Indonesia (NII) menyusup ke dunia pendidikan.

Akhirnya, aspek kognitif bisa tergeser oleh afektif yang dibangun NII.
— Arief Rachman

Arief mencontohkan, ada seorang anak yang telah belajar Pancasila, agama, bahkan tentang cara berwarganegara yang baik. Namun, jika anak tersebut hanya diajarkan dalam aspek-aspek kognitif, ketika masuk konsep yang diikuti dengan latihan-latihan dalam diskusi atau seminar buatan NII, anak-anak tersebut justru dapat terjerumus ke dalamnya.

“Jika dalam seminar sudah memberikan pendapat, itu berarti si anak telah menunjukkan sikapnya. Jika itu diasah terus, akhirnya aspek kognitif bisa tergeser oleh afektif yang dibangun NII,” kata Arief.

“NII adalah suatu pelajaran yang keras di Indonesia, yaitu supaya kita memperhatikan masalah sikap dan pengamalan aspek-aspek afektif dan psikomotor dalam menanamkan ideologi Pancasila dalam dunia pendidikan saat ini,” imbuhnya.

Sebelumnya Arief juga mengatakan, bagian terpenting penanaman ideologi Pancasila di dunia pendidikan saat ini tidak hanya meliputi materi, tetapi juga sikap-sikap yang dibentuk dalam nilai Pancasila itu sendiri. Pasalnya, meskipun seorang anak diberikan mata pelajaran tersebut, belum tentu anak itu menjadi seorang pancasilais.

Arief menambahkan, ideologi Pancasila tetap relevan sampai kapan pun bagi bangsa Indonesia. Ia menilai, walaupun saat ini pelajaran Pancasila sudah tidak terdapat lagi dalam kurikulum, penanaman ideologi tersebut dapat secara langsung diterapkan dalam proses mengajar.

“Yang terpenting adalah mengaktualisasikan dalam contoh-contoh problematik saat ini, karena Pancasila tetap relevan,” kata Arief.

Sumber : kompas.com

Cukupkah Pendidikan Kewarganegaraan?

Pengamat pendidikan Arief Rachman mengatakan, saat ini penanaman ideologi Pancasila dapat diterapkan dalam mata pelajaran Kewarganegaraan. Namun, agar ideologi tersebut dapat berjalan maksimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah proses pembelajaran.

Kelemahan proses pendidikan di Indonesia pada umumnya adalah kita kuat di kognitif saja. Contohnya, ada anak tahu Pancasila, tetapi sikap dia tidak mencerminkan pengetahuan yang dia tahu itu.
— Arief Rachman

Arief, yang juga menjabat Duta UNESCO untuk Indonesia, menuturkan, dalam setiap proses pembelajaran harus meliputi tiga aspek, yakni kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (pengalaman). Begitu pula dengan penanaman ideologi Pancasila dalam pelajaran Kewarganegaraan. Ia menilai, ketika ketiga aspek tersebut tidak dijalankan secara seimbang, justru akan menjadi kelemahan dalam proses mengajar.

“Kelemahan proses pendidikan di Indonesia, pada umumnya, karena kita kuat di kognitif saja. Jadi, contohnya, ada anak tahu Pancasila itu apa, tetapi sikap dia tidak mencerminkan pengetahuan yang dia tahu itu,” kata pria kelahiran Malang, 19 Juni 1942, ini, Kamis (5/5/2011).

Arief mengingatkan, gerakan Negara Islam Indonesia (NII) dan berbagai masalah lain dapat dengan mudah muncul ke permukaan jika hanya menekankan aspek kognitif dalam proses pembelajaran dan penerapan ideologi Pancasila.

“Salah satunya adalah mudahnya gerakan NII memasuki dunia pendidikan,” ujar Arief.

Sebelumnya Arief juga mengatakan, bagian terpenting penanaman ideologi Pancasila di dunia pendidikan saat ini tidak hanya meliputi materi, tetapi juga sikap-sikap yang dibentuk dalam nilai Pancasila itu sendiri. Pasalnya, meskipun seorang anak diberikan mata pelajaran tersebut, belum tentu anak itu menjadi seorang pancasilais.

Arief menambahkan, ideologi Pancasila tetap relevan sampai kapan pun bagi bangsa Indonesia. Ia menilai, walaupun saat ini pelajaran Pancasila sudah tidak terdapat lagi dalam kurikulum, penanaman ideologi tersebut dapat secara langsung diterapkan dalam proses mengajar.

“Yang terpenting adalah mengaktualisasikan dalam contoh-contoh problematik saat ini, karena Pancasila tetap relevan,” kata Arief.

Sumber : kompas.com

Meski “Hilang”, Pancasila Tetap Relevan

Bagian terpenting penanaman ideologi Pancasila di dunia pendidikan tidak hanya meliputi materi, tetapi juga sikap-sikap yang dibentuk dalam nilai Pancasila itu sendiri. Pasalnya, meskipun diberikan mata pelajaran itu, belum tentu anak tersebut menjadi seorang pancasilais.

Penanaman ideologi Pancasila di dunia pendidikan sama saja jika melihat pendidikan karakter. Tidak hanya pendidikan yang tidak hanya harus tahu, tetapi juga harus bersikap dan mengamalkannya.
— Arief Rachman

Demikian dikatakan pemerhati pendidikan Arief Rachman ketika ditemui Kompas.com di Jakarta, Kamis (5/5/2011). Menurut Arief, saat ini sebagian besar orang hanya mengetahui rambu-rambu Pancasila, tetapi jarang sekali yang mengamalkan inti dari nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi tersebut.

“Penanaman ideologi Pancasila di dunia pendidikan sama saja jika kita lihat pendidikan karakter. Pendidikan karakter itu bukan mata pelajaran. Tidak hanya pendidikan yang tidak hanya harus tahu, tetapi harus juga bersikap dan mengamalkan,” ujar pria kelahiran Malang, 19 Juni 1942, ini.

Arief mengatakan, ideologi Pancasila tetap relevan sampai kapan pun bagi bangsa Indonesia. Ia menilai, walaupun saat ini pelajaran Pancasila sudah tidak terdapat lagi dalam kurikulum, penanaman ideologi tersebut dapat secara langsung diterapkan dalam proses mengajar.

“Yang terpenting adalah mengaktualisasikan dalam contoh-contoh problematik saat ini, karena Pancasila tetap relevan,” kata Arief.

Dia mencontohkan, ketika ingin menerapkan sila pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, anak-anak dapat diajarkan mengenai toleransi, terlebih dengan orang yang berbeda agama.

“Lalu, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, itu dapat dilihat pada kasus-kasus bullying di sekolah. Apakah masih ada kasus-kasus tersebut? Nah, guru harus mengajarkan siswanya bahwa bullying itu tidak baik,” jelasnya.

Sumber : kompas.com

One response to “Ada apa dengan Mata pelajaran PKn ?

  1. mau sharing tentang kognitif terutama mengenai ergonomi kognitif
    http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/12/ergonomi-kognitif.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s