Agar Pekerjaan Rumah Menjadi Media Belajar yang Efektif

Sebuah ikhtisar penelitian penting dipublikasikan oleh Prof. Harris Cooper (1989, 1994) terhadap lebih dari 100 penelitian yang dilakukan oleh para ahli pendidikan. Menurut Cooper yang juga psikolog dan Direktur Duke’s Program in Education, dalam jangka pendek PR mempunyai beberapa pengaruh positif, di antaranya PR dapat menghasilkan retensi yang lebih baik tentang fakta-fakta dan pengetahuan, pemahaman yang lebih baik, keterampilan berpikir kritis yang lebih baik, dan kemungkinan untuk memperluas kurikulum. Sedangkan dalam jangka panjang PR dapat mengembangkan kebiasaan belajar yang lebih baik, membangun sikap yang lebih positif terhadap sekolah dan belajar, dan semangat untuk belajar di luar jam sekolah. Efek non akademik jangka panjangnya termasuk perkembangan self direction yang lebih besar, belajar dan penyelesaian masalah yang lebih mandiri, pengaturan waktu yang lebih baik, dan keingintahuan yang lebih besar. Terakhir, PR dapat digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang tidak dapat diselesaikan di kelas.

Temuan yang sedikit berbeda dilaporkan oleh Hallam (2004) di dalam ikhtisarnya terhadap berbagai penelitian. Dia menemukan bahwa PR dapat menimbulkan ketegangan antara siswa dan orang tuanya, dan dapat menimbulkan kebencian di antara siswa yang merasa kehilangan waktu bebasnya. Ini pada akhirnya dapat menimbulkan perasaan tidak senang terhadap sekolahnya.

Sebaiknya kita tidak masuk dalam perdebatan tentang kontroversi hasil penelitian tersebut. Yang harus kita pikirkan bagaimana caranya agar PR yang diberikan mempunyai efek positif seperti yang dikemukakan oleh Cooper dan meminimalisir efek negatif yang diungkapkan oleh Hallam. Artinya bagaimana caranya kita menginisiasi PR yang efektif dan berimplikasi positif terhadap siswa. Agar PR menjadi media belajar yang efektif, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan orangtua.

Pertama, tidak menggunakan PR sebagai hukuman karena akan membuat siswa membenci PR, dan PR tidak dilihat sebagai sebuah kegiatan belajar. Siswa akan mendapat kesan bahwa guru tidak menilai PR sebagai alat belajar, dan akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin dan dengan sikap acuh tak acuh. Sebagai cara untuk memotivasi siswa atau menambah jam belajar di luar sekolah, praktik semacam ini jelas dapat merugikan (Cooper, 1989).

Kedua, PR yang diberikan hendaklah diberikan umpan balik (feedback). Siswa akan menilai keseriusan gurunya dalam memberikan PR apakah gurunya memberikan umpan balik terhadap PR yang telah atau tidak mereka kerjakan. PR mestinya selalu dikoreksi dengan baik karena PR yang tidak dikoreksi dengan baik akan memberikan kesan kepada siswa bahwa yang penting adalah menyelesaikan tugasnya, tidak peduli bagaimana caranya. Ini jelas tidak mendorong mereka untuk berusaha menghasilkan pekerjaan yang benar dan berkualitas, dan oleh karenya tidak akan membantu belajar mereka. Salah satu temuan dari tinjauan Cooper (1989) adalah bahwa PR yang diperiksa memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap prestasi siswa dibanding PR yang tidak diperiksa. Ornstein (1994) mengatakan bahwa lebih baik memberikan PR dalam jumlah lebih sedikit tapi mengoreksinya dari pada memberikan lebih banyak PR tetapi tidak pernah dikoreksi.

Ketiga, PR mestinya diintegrasikan dengan pelajaran atau topik yang dikaji. Salah satu cara untuk itu adalah dengan mereviu PR pada awal pelajaran. Bila dikerjakan secara rutin, ini akan memastikan bahwa PR dilihat sebagai bagian integral pelajaran dan mungkin juga merupakan cara yang baik untuk menghubungkan pelajaran sebelumnya dengan pelajaran yang saat ini diberikan. Meskipun mempraktikkan berbagai keterampilan selama mengerjakan PR mungkin perlu, penelitian menunjukkan bahwa PR paling efektif bila menguatkan ide-ide utama kurikulum (Black, 1997). PR mestinya bersifat menantang, tetapi siswa mestinya mampu menyelesaikannya dengan sukses. PR tidak boleh menimbulkan kebingungan atau frustasi. Menurut Cooper, hampir semua siswa mestinya mampu mengerjakan PR-nya dengan sukses, sehingga PR tidak untuk digunakan sebagai cara untuk menguji siswa. Salah satu cara untuk mencapai hal ini, yang juga dapat membantu mengatasi beberapa masalah yang terlibat dalam mengajar siswa yang heterogen, adalah dengan mengindividualisasikan PR, disesuaikan dengan tingkat kemampuan masing-masing siswa di dalam mata pelajaran tersebut.

Keempat, orangtua mestinya terlibat, tapi tidak dominan dalam proses pengerjaannya. Peran orangtua lebih bersifat fasilitator sejauh itu dibutuhkan anak.

Kelima, banyaknya pekerjaan rumah sebaiknya berbeda untuk setiap levelnya. Banyaknya PR bagi siswa sekolah dasar (SD) atau sekolah menengah pertama (SMP) tidak perlu sebanyak dan seberat dengan PR yang diberikan kepada siswa sekolah menegah atas (SMA).

Keenam, pada praktiknya pemberian PR tentu saja harus juga mempertimbangkan kebutuhan dan perkembangan psikologis siswa.

 Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s